Dalam setahun terakhir, para regulator dan investor telah mengkritisi standar keberlanjutan dari mekanisme konsensus banyak blockchain layer 1. Bitcoin menerima kritik terbanyak karena permintaan sumber daya mereka yang terbesar karena penggunaan desain Proof-of-Work (PoW). Kekhawatiran mengenai konsumsi energi blockchain telah mengakibatkan pada pembuat kebijakan di New York untuk menyerukan pelarangan operasi penambangan Bitcoin, sambil mengatakan bahwa ada potensi terjadinya penggunaan jaringan listrik berlebihan dan naiknya harga energi. Sebagai alternatif, protokol Proof-of-Stake (PoS) seperti Ethereum bisa mencapai konsensus hanya dengan sebagian dari jumlah energi yang dibutuhkan untuk mencapainya di PoW. Meskipun begitu, ada sebuah riset yang menemukan adanya risiko sentralisasi validator sehingga menjadi topik yang diperdebatkan mengenai ketahanan sensor Ethereum.
Protokol pembayaran Chia Network mencoba untuk menjawab permasalahan ini yang terkait dengan keberlanjutan, desain blockchain L-1 yang desentral. Chia menggabungkan aspek-aspek dari Bitcoin dan Ethereum dengan menawarkan fungsionalitas smart contract di atas arsitektur konsensus Nakamoto. Mekanisme Proof-of-Space-and-Time (PoST)-nya yang unik meminta pengguna untuk menawarkan ruang hard-drive yang kosong untuk mengkoordinasi produksi blok dan menerima imbalan. Dibandingkan dengan PoW, PoST memiliki biaya perangkat keras yang lebih rendah dan memiliki permintaan listrik yang tidak terlalu konsumtif. Halangan entri rendah ini telah memungkinkan Chia Network untuk memiliki persebaran node yang tinggi volume dan luas secara geografis dibandingkan dengan protokol lain.
Chia has created 3 new core inventions of math. Firstly, Chia created the first intended for production BLS Signatures library. Secondly, Chia will be the first production use of class groups for cryptography. Finally, Chia created Proof of Space and Time for Nakamoto consensus pic.twitter.com/JnDfOH15ME
— Chia Network (@chia_project) May 14, 2019