Mengenal 3 Jenis Stablecoin dan Tingkat Risikonya 

Mengenal 3 Jenis Stablecoin dan Tingkat Risikonya 

Stablecoin merupakan salah satu tempat utama untuk investor kripto menyimpan kekayaannya di pasar kripto. 

Sebagai buktinya, menurut data dari DeFillama, saat ini kapitalisasi pasar stablecoin secara menyeluruh telah mencapai $133,79 Miliar, artinya dana sebanyak $133,79 saat ini sedang disimpan dalam bentuk stablecoin campuran. 

Untuk melihat seberapa besar dana tersebut, saat ini kapitalisasi pasar dari USDT atau stablecoin dari Tether saja sudah berada di peringkat ketiga di bawah Bitcoin dan Ethereum.

Artinya saat ini setelah Bitcoin dan Ethereum, investor kripto masih lebih memilih untuk menyimpan dananya di pasar kripto dalam bentuk USDT dibandingkan kripto lainnya. 

Hal ini disebabkan stablecoin bisa digunakan untuk banyak strategi, termasuk mencari keuntungan pasif di sektor DeFi atau sekedar disimpan sebelum menemukan kripto potensial untuk dibeli. 

Strategi ini sangat umum digunakan terutama saat bear market, karena pergerakan pasar yang tidak begitu jelas dan umumnya dipenuhi oleh koreksi, sehingga investor yang tetap ingin memanfaatkan teknologi pasar kripto, memilih stablecoin untuk mencari keuntungan. 

Stablecoin digunakan dalam bear market karena pergerakannya yang relatif stabil sehingga dianggap sebagai tempat yang aman untuk menyimpan kekayaan.

Tapi kenyataannya, tidak semua stablecoin bersifat aman karena ada jenis stablecoin yang memiliki risiko tinggi. 

Artikel ini akan menjelaskan mengenai tiga jenis stablecoin yang paling umum digunakan di dunia crypto dan blockchain serta potensi risiko yang datang dengan jenis tersebut.

Stablecoin Berbasis Fiat

Pertama adalah stablecoin berbasis uang fiat. Stablecoin jenis ini memiliki dasar aset yang terikat dengannya dalam bentuk uang fiat.

Artinya nilai dari Stablecoin ini langsung didasarkan oleh mata uang fiat yang terikat. Salah satu contohnya adalah USDT yang merupakan stablecoin berbasis Dolar Amerika atau USD, yang membuat nilai dari 1 USDT sama dengan $1.

Mata uang ini diterbitkan oleh Tether, sehingga memberi namanya USDT. Dalam menerbitkan USDT, Tether harus selalu memiliki cadangan Dolar Amerika sesuai dengan jumlah yang diterbitkan.

Artinya, jika menerbitkan 1 Juta USDT, maka Tether harus memiliki cadangan sebesar $1 Juta USD dalam tempat penyimpanan dananya. 

Contoh lain adalah EURC yang merupakan stablecoin berbasis mata uang Euro. 1 EURC memiliki nilai $1 EUR karena keterkaitan antara stablecoin dan mata uang fiat yang mendasarinya. 

EURC diterbitkan oleh Circle, sehingga jika Circle ingin menerbitkan 52,2 Juta EURC, maka Circle harus memiliki $52,2 Juta EUR dalam tempat penyimpanan dananya, seperti kenyataannya saat ini. 

Mekanisme ini diterapkan untuk memastikan bahwa penerbit stablecoin tidak asal menerbitkan dan menyesuaikan jumlah stablecoin yang ada dengan jumlah mata uang fiat yang mendasarinya sesuai dengan dunia nyata. 

Kondisi ini membuat kripto memiliki nilai asli, karena jika penerbit stablecoin menerbitkan secara asal tanpa mendasarinya dengan mata uang fiat asli, maka denominasi nilai dari kripto yang diperdagangkan dengan stablecoin akan hancur dan tidak bernilai.  

Sama seperti uang fiat, stablecoin jenis ini memiliki sifat inflasi, sehingga jumlahnya akan terus bertambah sepanjang waktu bersamaan dengan bertambahnya mata uang fiat asli yang mendasarinya. 

Perlu diketahui bahwa stablecoin jenis ini paling sering digunakan karena kemudahan yang diberikannya, salah satu contohnya adalah saat deposit ke exchange dimana investor deposit dalam bentuk mata uang fiat untuk kemudian mendapatkan stablecoin. 

Sebagai langkah awal investor untuk masuk ke dunia kripto, disarankan untuk menggunakan stablecoin jenis ini karena tidak memiliki mekanisme yang rumit. 

Terkait risiko, stablecoin ini adalah stablecoin paling aman karena memiliki risiko volatilitas paling tinggi mengingat nilainya yang didasari oleh fiat. 

Stablecoin Berbasis Komoditas

Berikutnya adalah stablecoin yang didasari oleh komoditas. Artinya yang mendasari nilai dari stablecoin ini bukan mata uang fiat, tapi komoditas-komoditas seperti emas, perak, minyak, properti dan beberapa komoditas ternama lainnya. 

Semua jenis komoditas di pasar keuangan bisa digunakan karena semua bergantung pada penerbitnya yang menciptakan stablecoin tersebut. 

Stablecoin ini akan diterbitkan oleh sebuah entitas atau institusi sama halnya dengan stablecoin berbasis fiat, jadi perusahaan seperti Circle dan Tether yang sebelumnya dibahas juga bisa menerbitkan stablecoin jenis ini. 

Tapi nilai dari stablecoin ini tidak mencerminkan nilai mata uang fiat, melainkan mencerminkan komoditas yang mendasarinya seperti contohnya stablecoin berbasis emas yang diterbitkan oleh Paxos. 

Jadi misalkan sebagai contoh, nama stablecoin berbasis emas yang diterbitkan oleh Paxos bernama PAX Gold atau PAXG, memiliki nilai $2.000. Artinya 1 PAXG memiliki nilai $2.000 karena saat ini nilai 1 ons emas adalah $2.000. 

Sama seperti stablecoin fiat, untuk menerbitkan 1 Juta PAXG maka Paxos harus memiliki emas sebanyak 1 Juta ons yang harus disimpan dalam dana cadangannya. 

Stablecoin ini lebih sering digunakan untuk investasi jangka panjang oleh investor yang ingin mencari alternatif cara pembelian komoditas namun memanfaatkan teknologi blockchain. 

Salah satu keuntungan dari investasi komoditas dengan cara ini adalah likuiditas, dimana komoditas yang dibeli melalui stablecoin ini lebih mudah dijual untuk dicairkan karena hanya perlu menukarkannya ke stablecoin berbasis fiat dan kemudian melakukan penarikan dana ke bank pribadi.

Terkait risiko, stablecoin ini adalah stablecoin yang risikonya lebih tinggi dibandingkan stablecoin berbasis mata uang fiat, karena aset pendasarnya yang merupakan komoditas, dimana komoditas volatilitas lebih tinggi dibandingkan uang fiat.

Stablecoin Berbasis Kripto

Jenis stablecoin yang ketiga adalah stablecoin berbasis kripto dimana nilai dari stablecoin ini dijaga agar tetap $1 per stablecoin namun dengan menggunakan kripto sebagai pendasarnya. 

Jenis stablecoin ini lebih sering diterbitkan oleh DAO atau Decentralized Autonomous Organization yang ingin menjaga sistem desentralisasi namun membutuhkan stablecoin untuk mengganti mata uang fiat di dunia kripto. 

Salah satu contohnya adalah stalecoin bernama DAI yang diterbitkan oleh MakerDAO. Berbeda dengan stablecoin yang diterbitkan oleh satu entitas terpusat, stablecoin ini butuh partisipasi dari komunitas dan anggota DAO serta investor kripto secara menyeluruh untuk menerbitkannya. 

Dengan DAI penerbitan dilakukan dengan mekanisme yang dinamakan minting dengan cara melakukan deposit ke DAO dalam bentuk ETH. 

Mengingat mekanismenya tidak dijaga oleh entitas terpusat, maka DAO akan menerapkan smart contract yang memastikan nilai DAI tidak akan jatuh di bawah dari $1 sehingga 1 DAI selalu bernilai $1. 

Caranya adalah menerapkan mekanisme deposit lebih tinggi dibandingkan nilai DAI atau mekanisme yang disebut over-collateralization. 

Artinya dengan DAI, untuk menerbitkan DAI senilai $1, bersama rasio over-collateralization sebesar 150%, maka investor harus melakukan deposit ke Vault dari DAO sebesar $1,5 dalam bentuk ETH. 

Mengingat volatilitas kripto yang sangat tinggi, maka deposit dalam jumlah yang lebih tersebut adalah cara untuk mengantisipasi apabila nilai jaminan untuk penerbitan stablecoin bergerak turun secara signifikan. 

Perlu diketahui juga bahwa jenis stablecoin ini bisa diterbitkan dengan beberapa cara yaitu bisa melalui pinjam-meminjam untuk menerbitkan atau dengan cara mudah yaitu pertukaran. 

Dengan DAI, penerbitan saat ini dilakukan dengan cara melakukan deposit ETH pada Vault MakerDAO untuk kemudian meminjam DAI untuk menerbitkan DAI ke pasar kripto. 

Tapi dengan contoh stablecoin berbasis kripto lain seperti UST yang mengalami tragedi kehancuran bersama LUNA, maka investor hanya perlu menukarkan LUNA ke UST pada saat tersebut untuk mendapatkan UST. 

Investor tidak harus melakukan mekanisme tersebut untuk memiliki stablecoin berbasis kripto, karena bisa dilakukan dengan membeli di exchange. Tapi jika ingin menerbitkan stablecoin yang belum beredar di pasar, maka investor harus melakukan mekanisme tersebut. 

Jenis stablecoin ini memberi kemungkinan untuk investor melakukan arbitrase karena nilainya yang bisa berubah-ubah. 

Contoh, mengingat nilai stablecoin ini yang bisa naik turun dengan cepat karena volatilitas kripto yang mendasarinya, maka dengan DAI, saat nilainya turun di bawah $1, investor bisa membeli 1 DAI dan menukarkannya ke 1 USDT  untuk mendapatkan keuntungan kecil karena pada saat penukaran 1 DAI bernilai $0.9991 sedangkan 1 USDT bernilai $1.

Terkait risiko, stablecoin ini memiliki risiko paling tinggi dibandingkan stablecoin berbasis fiat dan komoditas, karena volatilitas aset pendasarnya yaitu kripto, serta potensi nilainya yang bisa dimanfaatkan oleh investor kripto. 

Jadi secara menyeluruh, ketiga stablecoin ini bisa dimanfaatkan untuk kegunaannya masing-masing. Sehingga jika ingin melakukan diversifikasi investor harus memahami secara mendalam terlebih dahulu terkait stablecoin yang akan digunakan. 

Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Naufal

Naufal

Peneliti dan Investor di Industri Kripto, Blockchain, dan Web3

Artikel Lainnya :

Dapatkan Konten Premium dengan Join Membership