Telegram, TON, NOT, dan Hamster

Kalau membangun teknologi yang keren dan canggih, tapi tidak mendapatkan pengguna aktif… lalu apa artinya?

Pertanyaan ini melanda kripto sejak kelahiran Bitcoin. Bertahun-tahun setelahnya, industri kripto telah mendanai pengembangan beberapa teknologi yang inovatif… tapi kesulitan menyambut pengguna aktif baru.

Salah satu bagian masalahnya: Kripto dan blockchain adalah teknologi “di balik layar”. Ini hanya merupakan basis data, yang kurang menarik dan tidak ramah pengguna. Berbeda dengan aplikasi media sosial atau pemesanan makanan.

Selama 15 tahun, pengembang kesulitan untuk mencoba meningkatkan UX (pengalaman pengguna) blockchain. Sudah ada beberapa kemajuan. Ekosistem aplikasi Ethereum yang kaya telah membantu daya tarik blockchain, dan kecepatan Solana meminimalisir batasan performa yang dikenalkan sistem terdistribusi ini.

Sumber: RaoulGMI

Namun, kita masih belum masuk arus utama (mainstream). 5 juta orang onchain itu kurang dari 1% populasi Bumi. Kita benar-benar masih sangat awal.

Kenapa kripto sulit menarik/menyambut pengguna baru? Yah, banyak alasannya. Tapi mungkin yang paling mendasar adalah kripto sulit untuk diakses. Kripto kekurangan “jalur distribusi” produk. Raksasa teknologi membatasi saluran distribusi yang dominan seperti App Store (Apple). Masalah lainnya adalah kripto berfokus pada penggunaan desktop, sedangkan dunia kita semakin menyukai ponsel.

Di sinilah peran Telegram!

Tulisan selengkapnya tersedia untuk Member RR. Silakan daftar untuk menjadi member!
Join Now
Already a member? Log in here
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Picture of David

David

Seorang analis on-chain yang gemar meneliti infrastruktur Web3 pula

Artikel Lainnya :