Lazarus Group adalah kelompok peretas yang secara luas diyakini memiliki hubungan erat dengan pemerintah Korea Utara, khususnya Reconnaissance General Bureau. Kelompok ini dikenal sejak akhir 2000-an sebagai salah satu organisasi peretas paling berbahaya karena mampu menjalankan operasi siber kompleks, mulai dari spionase, sabotase digital, hingga pencurian aset kripto bernilai miliaran dolar.
Awalnya lebih banyak melakukan serangan bermotif politik, fokus mereka kemudian bergeser ke pencurian aset digital untuk memperoleh pendanaan di tengah sanksi ekonomi internasional.
Dana hasil curian diyakini digunakan untuk mendukung program senjata, termasuk rudal balistik dan nuklir. Kalian yang mengikuti isu keamanan siber perlu memahami bagaimana aktivitas kelompok ini menjadi ancaman terhadap stabilitas keuangan digital dan keamanan internasional.
Siapa Lazarus Group dan Bagaimana Modus Operasinya?
Lazarus Group mulai dikenal secara global melalui serangkaian serangan berskala besar. Salah satu aksi paling terkenal adalah peretasan Sony Pictures Entertainment pada 2014 sebagai respons terhadap film The Interview. Data internal, email karyawan, hingga film yang belum dirilis berhasil dicuri dan disebarluaskan. Pada 2017, kelompok ini dikaitkan dengan penyebaran ransomware WannaCry yang menginfeksi lebih dari 200.000 komputer di lebih dari 150 negara dan melumpuhkan berbagai layanan penting, termasuk rumah sakit serta institusi pemerintah.
Seiring meningkatnya sanksi ekonomi terhadap Korea Utara, fokus operasi berkembang dari spionase menjadi pencurian aset digital. Mereka menargetkan bursa mata uang kripto, perusahaan blockchain, platform DeFi, dompet digital, hingga individu yang memiliki aset besar. Modus operasinya beragam, mulai dari phishing melalui email palsu, penyebaran malware, eksploitasi celah keamanan perangkat lunak, hingga menyamar sebagai perekrut kerja atau investor untuk mengelabui korban agar menginstal aplikasi berbahaya. Setelah memperoleh akses, aset digital dicuri kemudian dicuci melalui layanan pencampur, jembatan blockchain, dan jaringan transaksi yang rumit agar sulit dilacak.
Dalam beberapa tahun terakhir, Lazarus Group menjadi aktor utama di balik sejumlah pencurian kripto terbesar. Mereka dikaitkan dengan peretasan Ronin Network pada 2022 yang menyebabkan kerugian sekitar US$620 juta, serta berbagai serangan terhadap platform DeFi dan bursa kripto lainnya. Menurut Chainalysis, peretas yang berafiliasi dengan Korea Utara mencuri sedikitnya US$2 miliar sepanjang 2025. Total nilai aset digital yang dicuri sepanjang sejarah mencapai sedikitnya US$6,75 miliar. Meskipun jumlah serangan yang berhasil dikonfirmasi lebih sedikit dibanding tahun sebelumnya, para peretas berhasil memperoleh keuntungan yang lebih besar.
Berikut modus dan dampak utama yang tercatat:
- Phishing, malware, dan penyamaran sebagai perekrut atau investor
- Pencucian melalui mixer, cross-chain bridge, dan transaksi rumit
- Kerugian besar seperti Ronin Network US$620 juta
- Total pencurian historis mencapai sedikitnya US$6,75 miliar
Aktivitas ini tidak hanya dianggap sebagai kejahatan siber, tetapi juga sebagai ancaman terhadap keamanan internasional karena dana hasil curian diyakini mendukung program persenjataan Korea Utara.
Mengapa G7 Menyerukan Aksi Bersama?
Para pemimpin Kelompok Tujuh (G7) kembali menyerukan aksi bersama untuk mengatasi pencurian mata uang kripto dan kejahatan siber yang dilakukan oleh Korea Utara. Dalam pernyataan yang diadopsi pada KTT G7 di Évian-les-Bains, Prancis, para pemimpin menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap program nuklir dan rudal balistik Korea Utara. Perserikatan Bangsa-Bangsa serta peneliti keamanan telah mengaitkan hasil pencurian kripto dengan pendanaan program persenjataan tersebut.
Pernyataan terbaru ini memperluas peringatan sebelumnya yang sudah disampaikan setelah KTT G7 Juni 2025 di Kanada. Saat itu, ketua G7 menyerukan agar negara-negara anggota bersama-sama menangani pencurian mata uang kripto oleh DPRK yang mendanai program nuklir dan rudal balistik. Seruan terbaru muncul di tengah serangkaian peretasan besar yang diduga terkait aktor Korea Utara, termasuk eksploitasi Drift Protocol senilai sekitar US$285 juta pada April dan pelanggaran keamanan Humanity Protocol senilai US$36 juta pada Juni.
Pernyataan Évian berlandaskan pada tiga pilar utama. Pertama, peningkatan koordinasi kebijakan di antara negara-negara anggota G7. Kedua, penguatan penegakan kerangka sanksi yang sudah ada. Ketiga, upaya mengganggu jaringan pencucian uang yang mengubah aset kripto hasil curian menjadi dana yang dapat digunakan. Para pemimpin menegaskan kembali kebutuhan untuk secara bersama-sama menangani pencurian kripto dan kejahatan siber Korea Utara.
Namun, pernyataan tersebut tidak menjelaskan secara rinci langkah-langkah konkret yang harus diambil negara anggota. Tidak disebutkan tindakan seperti penyaringan transaksi di bursa kripto, pemberian sanksi baru, atau langkah terhadap layanan crypto mixer yang sering dikaitkan dengan pencucian uang hasil curian. Jepang menjadi pihak yang mendorong agar isu ini masuk ke dalam agenda pembahasan. Menteri Keuangan Jepang, Katayama Satsuki, secara terbuka menyerukan kepada mitra G7 untuk memperkuat respons terhadap aksi peretasan Korea Utara. Ia menggambarkan langkah tersebut sebagai pertama kalinya G7 secara resmi mempertimbangkan respons kolektif terhadap pencurian mata uang kripto yang disponsori oleh negara.
Berikut fokus utama seruan G7:
- Peningkatan koordinasi kebijakan antarnegara anggota
- Penguatan penegakan sanksi yang sudah ada
- Gangguan terhadap jaringan pencucian uang hasil curian
- Respons kolektif terhadap ancaman yang didanai pencurian kripto
Upaya bersama ini dilakukan karena Lazarus Group dipandang sebagai contoh nyata bagaimana serangan siber dapat digunakan sebagai alat negara untuk memperoleh keuntungan ekonomi sekaligus mendukung tujuan geopolitik.
Kesimpulan
Seruan G7 di Évian-les-Bains menegaskan keprihatinan mendalam terhadap pencurian kripto dan kejahatan siber yang dikaitkan dengan Korea Utara. Lazarus Group telah menjadi aktor utama di balik pencurian aset digital bernilai miliaran dolar yang diyakini mendanai program senjata.
Meskipun pernyataan para pemimpin tidak merinci langkah operasional baru, tiga pilar koordinasi kebijakan, penegakan sanksi, dan gangguan jaringan pencucian uang menjadi dasar respons kolektif. Kalian yang memantau perkembangan keamanan siber dan pasar kripto perlu terus mengikuti implementasi seruan ini karena dampaknya dapat memengaruhi tata kelola aset digital dan stabilitas keuangan global ke depan.
Kontributor: Lydicius