Hubungan Amerika Serikat dan Iran termasuk salah satu yang paling rumit dalam sejarah modern. Sebelum 1979 kedua negara sempat menjadi sekutu dekat. AS mendukung pemerintahan Shah Mohammad Reza Pahlavi yang pro-Barat. Namun, campur tangan AS dalam kudeta 1953 terhadap Perdana Menteri Mohammad Mossadegh meninggalkan luka mendalam.
Revolusi Islam 1979 mengubah segalanya. Shah digulingkan, diikuti krisis sandera di Kedutaan Besar AS yang berlangsung 444 hari. Sejak saat itu hubungan diplomatik terputus dan sanksi ekonomi mulai diterapkan. Perselisihan kemudian berkembang menjadi konflik proksi di Timur Tengah serta sengketa program nuklir yang menghasilkan sanksi berat. Kalian perlu memahami akar sejarah ini untuk melihat makna kesepakatan terbaru.
Latar Belakang Konflik AS-Iran yang Berlangsung Puluhan Tahun
Hubungan AS-Iran penuh ketidakpercayaan yang telah mengakar selama puluhan tahun. Sebelum Revolusi Islam, AS mendukung Shah yang dianggap terlalu bergantung pada Barat oleh banyak warga Iran. Peristiwa 1953, ketika CIA bersama Inggris membantu menggulingkan Mossadegh setelah ia menasionalisasi industri minyak, masih dipandang sebagai simbol campur tangan asing terhadap kedaulatan Iran.
Titik balik terbesar terjadi pada 1979. Shah digulingkan dan digantikan pemerintahan Islam di bawah Ayatollah Khomeini. Tidak lama kemudian mahasiswa revolusioner menyerbu Kedutaan Besar AS di Teheran dan menyandera 52 warga Amerika selama 444 hari. Krisis tersebut menjadi fondasi permusuhan yang bertahan hingga sekarang. Hubungan diplomatik resmi diputus dan sanksi ekonomi mulai diberlakukan.
Pada dekade-dekade berikutnya, konflik berkembang ke berbagai bidang. AS menuduh Iran mendukung kelompok bersenjata seperti Hezbollah dan milisi regional yang dianggap mengancam kepentingan Amerika serta sekutunya. Sebaliknya, Iran menilai AS berusaha mendominasi Timur Tengah, mendukung Israel secara berlebihan, dan mencampuri urusan dalam negeri Iran. Kedua negara jarang berkonfrontasi secara langsung, tetapi sering terlibat dalam konflik proksi di Lebanon, Irak, Suriah, dan wilayah lain.
Perselisihan terbesar di era modern adalah program nuklir Iran. Iran mengklaim tujuannya damai untuk energi dan penelitian. AS dan negara Barat khawatir Iran mengembangkan senjata nuklir. Ketegangan ini menghasilkan sanksi ekonomi sangat berat. Pada 2015 tercapai kesepakatan JCPOA di mana Iran membatasi aktivitas nuklir sebagai imbalan pencabutan sebagian sanksi. Namun pada 2018 AS keluar dari kesepakatan tersebut dan kembali menjatuhkan sanksi, sehingga hubungan memburuk lagi.
Berikut faktor utama yang membentuk permusuhan jangka panjang:
- Kudeta 1953 dan campur tangan asing
- Revolusi Islam 1979 beserta krisis sandera
- Konflik proksi di berbagai negara Timur Tengah
- Sengketa program nuklir dan sanksi ekonomi berulang
Akibat konflik berkepanjangan ini, setiap ketegangan AS-Iran dapat memengaruhi harga minyak global karena Iran berada dekat Selat Hormuz, jalur penting perdagangan minyak dunia. Stabilitas Timur Tengah, hubungan dengan Israel, negara-negara Teluk, serta kebijakan keamanan internasional juga turut terdampak.
Dampak Kesepakatan terhadap Bitcoin dan Aset Berisiko
Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat dan Iran telah mencapai kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz tanpa biaya tol. Pernyataan tersebut mendorong harga Bitcoin naik ke level tertinggi dalam dua minggu terakhir. Bitcoin sempat mendekati US$66.000 pada perdagangan Senin pagi setelah Trump mengklaim AS berhasil menengahi perjanjian damai yang akan membuka kembali akses pelayaran melalui Selat Hormuz.
Trump menulis di platform Truth Social bahwa kesepakatan dengan Republik Islam Iran telah selesai. Ia juga menyatakan secara resmi mengizinkan pembukaan Selat Hormuz tanpa biaya sekaligus mengakhiri blokade angkatan laut Amerika Serikat. Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, mengonfirmasi adanya kesepakatan tersebut melalui televisi nasional Iran. Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran juga menyatakan bahwa konflik di seluruh front akan berakhir secara permanen dan blokade Amerika akan segera dicabut sepenuhnya.
Pasar menyambut positif pernyataan tersebut. Harga Bitcoin naik hingga US$65.881 di Coinbase, menjadi level tertinggi dalam 12 hari terakhir. Sebelumnya Bitcoin belum kembali menembus US$66.000 sejak 3 Juni. Andri Fauzan Adziima, Head of Research di Bitrue Research Institute, menilai potensi kesepakatan damai menghilangkan salah satu risiko geopolitik terbesar yang selama ini membebani pasar. Investor kembali berani mengambil risiko. Bitcoin berhasil menembus US$65.000 karena trader kembali masuk setelah tekanan dari kenaikan harga minyak mereda dan kondisi global terlihat lebih stabil. Ia juga mengingatkan masih ada kemungkinan kendala pada tahap finalisasi perjanjian.
Tidak hanya Bitcoin, pasar kripto secara keseluruhan ikut menguat. Total kapitalisasi pasar naik sekitar 2 persen dalam sehari. Beberapa altcoin seperti Hyperliquid (HYPE), Zcash (ZEC), dan Near Protocol (NEAR) bahkan mencatat kenaikan dua digit dan mengungguli Bitcoin. Di pasar minyak, harga minyak mentah WTI Crude turun sekitar 5 persen ke level terendah sejak awal Maret, sedikit di atas US$80 per barel. Brent Crude turun 4,6 persen ke sekitar US$83,30 per barel.
Berikut dampak langsung yang terlihat di pasar:
- Bitcoin naik ke US$65.881, tertinggi dalam 12 hari
- Kapitalisasi pasar kripto naik sekitar 2 persen
- Altcoin utama mencatat kenaikan dua digit
- Harga minyak WTI dan Brent turun signifikan
Kondisi geopolitik yang semakin stabil mendorong investor kembali melirik aset berisiko seperti Bitcoin dan aset kripto lainnya, setelah sebelumnya pasar cenderung berhati-hati akibat ketidakpastian global.
Kesimpulan
Kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz menandai potensi babak baru dalam hubungan yang telah tegang selama puluhan tahun. Pengumuman tersebut langsung mendorong Bitcoin naik ke level tertinggi dalam dua minggu terakhir dan memperkuat sentimen risk-on di pasar kripto. Harga minyak juga turun seiring berkurangnya kekhawatiran pasokan.
Meskipun masih ada kemungkinan kendala pada tahap finalisasi, penghapusan salah satu risiko geopolitik besar memberikan ruang bagi investor untuk kembali mengambil posisi di aset berisiko. Kalian yang memantau pasar perlu terus mengikuti perkembangan implementasi kesepakatan ini karena dampaknya dapat memengaruhi stabilitas harga minyak dan aset kripto ke depan.
Kontributor: Lydicius