Kripto MYTHS

mitos-crypto-myth

Ada beberapa mitos yang bertebaran di luar tentang kripto. Miskonsepsi yang kadang sangat meresap sampai cenderung bertahan lama untuk ribuan tahun. Beberapa dari mitos ini mungkin sudah jelas untuk Anda, tetapi beberapa mungkin ada yang kelewatan. Dengan masih mempercayai mitos ini, Anda akan sepenuhnya tidak sadar akan pengaruh mereka ke portofolio Anda. Berikut mitos-mitos kripto yang masih ada sekarang beserta klarifikasinya untuk membantu Anda berinvestasi dengan lebih bijak, membantah FUD yang mainstream, dan memahami pasar kripto lebih baik.

Bitcoin & Lingkungan

Dampak Bitcoin pada lingkungan adalah salah satu mitos. Ini adalah sesuatu yang telah meningkat kabarnya di berita semenjak beberapa personil terkenal mulai berbicara mengenai ini. Elon Musk tentunya, dia bukan hanya satu orang biliuner eksentrik yang telah menyebarkan naratif ini. Ada juga politisi seperti Elizabeth Warren dan komedian seperti Bill Maher. Tentu saja dengan nama besar yang memikat berita utama itu Anda perlu tahu bahwa media juga memercayai mitos yang sama. Ini adalah mitos karena sederhananya tidak benar. Sebagai contoh, menurut laporan CoinShares ini: Mining Bitcoin mendapatkan hampir 74% energinya dari sumber yang terbarukan. Iya, segitu banyaknya. Ingin menebak-nebak berapa banyak daya umum yang pengguna dapatkan dari energi terbarukan? Hanya sekitar 26%. Jadi atas dasar yang sebanding, mining Bitcoin menggunakan hampir 3x lebih banyak energi terbarukan daripada sebagian besar energi yang digunakan secara global.

Dengan statistik itu sangat sulit dipahami menapa telah ada sangat banyak keributan tentang mining Bitcoin. Semua hal lain yang Anda gunakan dayanya diambil dari lebih banyak sumber energi kotor dibandingkan yang dipakai mining Bitcoin. Dan juga persentase mining Bitcoin yang akan berasal dari sumber terbarukan kemungkinan akan meningkat. Ada 2 alasan:

Pertama, Anda harus mempertimbangkan fakta bahwa miners dari China diusir dari negaranya. Sebagai informasi, sebagian besar mining China dilakukan di provinsi seperti Xinjiang dan pedalaman Mongolia, yang menggunakan batu bara kotor. Dengan miners ini berpindah ke lokasi lain, aktivitas mining yang ditenagai batu bara kemungkinan akan berkurang. Bukan hanya itu, tetapi juga kemungkinan mining Bitcoin dapat membantu memacu revolusi energi yang hijau. Ini karena permintaan energi untuk mining Bitcoin dapat menjadikannya lebih menghasilkan untung bagi para pemasok energi untuk membangun sumber tenaga surya dan angin.

Bitcoin & China

Terhubung erat dengan mitos sebelumnya adalah Bitcoin dan China. Mitos ini berkata bahwa Bitcoin itu terpusat dan dikontrol oleh China. Ini terutama karena fakta bahwa sejumlah besar hash rate mining menurut sejarahnya telah berasal dari China. Mitos gila ini telah ada untuk bertahun-tahun dan ini merupakan argumen yang sering digunakan oleh musuh Bitcoin ketika berbicara tentang desentralisasi. Ini juga telah digunakan belakangan oleh Elon Musk. Well, yang orang-orang perlu pahami adalah perbedaan antara jaringan Bitcoin dan miners yang ada di jaringan. Jaringannya sendiri adalah sekumpulan node yang menyimpan blockchain Bitcoin. Miners, di sisi lain, adalah partisipan di jaringan yang menyebarkan blok dan memproses transaksi. Hanya karena kebanyakan miners berlokasi di satu negara bukan berarti jaringannya terpusat. Faktanya malah, jika kita lihat distribusi geografis node Bitcoin di seluruh dunia, itu luar biasa desentral.

Ada lebih dari 12.000 node di seluruh globe semuanya berbasis di banyak lokasi berbeda sejauh ujung selatannya Selandia Baru hingga sejauh utaranya Islandia. Desentralisasi node inilah yang menjadikan Bitcoin tidak dapat disensor. Tidak ada satu pun server tunggal atau satu titik kegagalan yang diandalkan penjahat untuk mengacaukan jaringan. Jadi inilah alasan kenapa banyak yang tidak setuju ketika orang mengklaim bahwa Bitcoin itu terpusat. Dan bahkan jikalau mining terpusat, ini akan berubah segera. Itu karena tindakan keras pemerintah China terhadap mining, para miners di China meninggalkan negeri berbondong-bondong dan berusaha mengatur operasi mereka dalam sejumlah yurisdiksi negara lain yang lebih ramah. Mitos keterpusatan atau sentralisasi ini hubungannya dengan mitos selanjutnya tentang kripto, yaitu bahwa pemerintah dapat mematikannya.

Kripto & Pemerintah

Telah ada berita utama tak terhitung jumlahnya di masa lalu tentang pemerintah berusaha melarang Bitcoin sebagai transaksi di beberapa negara. Yang lebih baru-baru ini ada negara dari India sampai Nigeria, dan Turki hingga Rusia. Mereka telah menebarkan ide ”Banning” cryptocurrency atau mengenalkan regulasi yang diharuskan. Satu-satunya masalah dalam rencana mereka adalah bahwa ini secara fisik tidak bisa dilakukan. Sebagian besar cryptocurrency seperti Bitcoin, Ethereum, dll adalah berupa jaringan node yang desentral di seluruh dunia yang menjalankan perangkat lunak sumber terbuka. Dan ini sangat sulit untuk di-ban karena siapa pun bisa mengatur node di mana pun di dunia dan menjaga catatan ledger yang desentral itu. Dan juga sangat susah untuk mampu menentukan siapa orang yang menjalankan node tertentu, berkat teknologi anonimitas seperti menggunakan VPN dll.

Untuk membuktikan betapa susahnya untuk benar-benar “Banning” cryptocurrency, China telah mencoba ini sejak tahun 2017 dan masih gagal melakukan itu. China adalah negara yang memiliki sistem firewall internet, sampai disebut the great firewall of China. Jika mereka tidak bisa menghentikan pengguna untuk mengirim kripto atau menjalankan node, maka Anda bisa tahu pasti tidak ada negara lain yang mampu melakukannya. Satu-satunya jalan negara bisa “Banning” dan menyingkirkan cryptocurrency secara penuh adalah dengan mematikan seluruh internet secara global, jika mereka membuat semua orang di dunia mustahil untuk terhubung dan menjalankan node. Intinya tidak mungkin internet global dimatikan. Itulah kenapa banyak negara yang telah mencoba ambil posisi dan mencoba “Banning” kripto dan gagal. Mereka sadar bahwa itu tidak bisa dilakukan. Mereka bakal sadar segera betapa sia-sianya usaha mereka dan mereka bakal menyerah.

Tentu ada perbedaan antara melarang kripto dan melarang fiat on/off ramp. Pemerintah sadar bahwa satu-satunya cara mereka dapat memperlambat adopsi cryptocurrency adalah untuk menyusahkan orang dari konversi uang fiat ke kripto dan sebaliknya. Mengingat bahwa bursa terpusat harus berinteraksi dengan sistem keuangan tradisional, mereka telah jadi target empuk bagi para pemerintah dan regulator. Namun bahkan jika pemerintah menyusahkan proses konversi kripto ke fiat dan sebaliknya pada bursa terpusat, orang-orang selalu bisa kembali pada transaksi peer-to-peer. Dengan kata lain, pertukaran sederhana antara dua orang, tanpa membutuhkan izin pemerintah. Ada alasan kenapa negara-negara seperti Venezuela telah mengalami ledakan sedemikian besar dalam volume peer-to-peer Bitcoin lokal, di mana pembeli bertemu penjual dan transaksi Bitcoin dapat terjadi.

Kripto & Kriminal

Mitos umum lainnya adalah dugaan bahwa kripto terutama digunakan oleh para kriminal untuk tujuan-tujuan jahat. Tindakan ini sangat tidak benar. Ini sangat meremehkan kripto dan mencoreng nama semua orang yang menggunakan kripto dengan alasan negatif ini. Dugaan itu juga luar biasa bodoh, karena siapa pun yang telah mempelajari alam kripto selama lebih dari satu hari akan tahu betapa luas dunia kripto. Namun kita tidak bisa menyalahkan orang-orang itu karena terutama berita yang mereka tonton biasanya mempublikasikan serangan siber seperti hacking, ransomware, dan cerita-cerita lain yang memikat berita utama.

Judul berita utama hanya clickbait untuk menarik pembaca, tetapi statistik adalah fakta. Menurut para detektif blockchain di Chainalysis, total persentase transaksi kripto yang terlibat dalam aktivitas kriminal tahun lalu adalah kurang dari 0,5% dari semua transaksi. Itu menurun hampir seperempatnya dari level di tahun 2019. Jadi dengan kata lain, 95,5% dari semua transaksi kripto merupakan transaksi sah di mana orang-orang terlibat dalam pembayaran, DeFi, staking, trading, dan kasus penggunaan lain yang patut. Setelah dipikirkan salah satu alasan utama kenapa mitos ini bertahan sangat lama adalah karena mitos kripto umum selanjutnya, yaitu bahwa transaksi Bitcoin itu anonim.

Bitcoin & Anonimitas

Ada terlalu banyak orang yang telah salah paham bahwa transaksi Bitcoin itu privat dan memungkinkan orang terlibat dalam aktivitas jahat, karena transaksinya tidak bisa dilacak dan karena tidak ada identitas di blockchain. Bukan hanya ini merupakan naratif yang masih digemborkan media mainstream, tetapi ini juga umum digunakan sebagai alasan untuk lebih menekan cryptocurrency oleh para politisi dan regulator. Naratif ini jelas sekali salah. Yang seharusnya Anda tahu adalah Bitcoin faktanya tidak seprivat uang tunai. Ini karena semua transaksi di jaringan Bitcoin dapat dilacak penuh. Ledger-nya transparan yang berarti Bitcoin mana pun yang pernah digunakan untuk aktivitas gelap dapat selalu dikenali. Demikian pula setiap dompet di blockchain memiliki alamat publik yang terbuka untuk dilihat siapa pun. Kita bisa melihat transaksi apa yang mengalir masuk dan keluar dari alamat tersebut.

Sekarang, meskipun benar bahwa Anda tidak harus mencantumkan nama ke alamat itu, semua yang Anda perlu lakukan adalah menghubungkannya ke identitas dunia nyata agar dapat menentukan siapa orang di baliknya. Ini biasanya pada titik ketika orang di balik suatu dompet mencoba berinteraksi dengan suatu bursa. Anda seharusnya juga tahu bahwa ada perusahaan-perusahaan audit blockchain di luar sana yang telah menjadi sangat maju dalam pelacakan transaksi Bitcoin. Ya sebenarnya lebih berisiko menggunakan Bitcoin untuk aktivitas ilegal & jahat daripada pakai metode seperti uang tunai. Anda hanya tinggal melihat semua berita utama tentang hacker yang ketahuan karena otoritas mampu melacak transaksi mereka secara mudah dan mencari tahu siapa orang tersebut. Faktanya alat-alat tersebut telah menjadi sangat maju bahkan mereka mampu menghentikan dana yang melalui banyak dompet. Ini terjadi baru-baru saja dengan peretasan Colonial Pipe di mana FBI mampu merebut Bitcoin bahkan sebelum berhasil keluar dari server cloud. Sangat mudahnya Bitcoin untuk dilacak juga merupakan alasan lain beberapa koin yang diretas dari figur kalangan atas belum pernah disentuh bertahun-tahun. Satu contohnya adalah hack Bitfinex, di mana bahkan gerakan dana yang terkecil pun dari peretasan tahun 2016 itu akan menarik banyak perhatian. Tapi begitu pun, ada cryptocurrency yang dikembangkan khusus untuk anonimitas. Ini termasuk yang semacam Monero dan Zcash. Anda bisa menonton episode kami membahas Monero di channel ini juga.

Ada lebih banyak lagi miskonsepsi dan mitos di luar sana, namun perlu diingat pentingnya mengandalkan banyak sumber dan cek fakta dalam hal semua yang berkaitan kripto. Tidak diragukan bahwa ada naratif kripto yang mainstream yang sering berbunyi melawan kebenaran.

Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp