S&P 500 Hampir Memasuki Wilayah Bear Market

Indeks S&P 500, indeks perusahaan dengan kapitalisasi pasar besar yang menjadi benchmark di pasar modal Amerika Serikat, kemarin sempat tergelincir ke jangkauan yang para pengamat sebut sebagai daerah bear market, yakni turun 20% dari rekor tertingginya. Nilainya kembali naik 0,01% sebelum denting bel penutupan pasar hari Jumat waktu setempat. Ini berarti pada waktu penutupan, indeks ini sudah turun 18% dari titik rekor tertingginya pada tanggal 3 Januari.

Pergerakan ini terjadi setelah turunnya performa indeks ini dalam 7 minggu terakhir. Indeks ini dipandang oleh banyak investor sebagai cerminan pasar modal yang paling akurat di Amerika Serikat.

Penurunan ini terjadi setelah indeks S&P 500 mengalami 3 tahun yang cemerlang, di mana nilainya naik 90%. Ahli dan pengamat berpendapat bahwa kenaikan tersebut didorong oleh pemberian dana bantuan sosial oleh pemerintah AS untuk masyarakatnya yang terdampak oleh pandemi COVID-19. Selain masuknya triliunan dolar ke ekonomi, Federal Reserve juga memangkas suku bunga acuan mendekati 0%. Hal ini menjadi salah satu penyebab terbesar dari tingginya tingkat inflasi di AS yang belum pernah terlihat dalam 40 tahun terakhir. Hal ini diperparah oleh krisis rantai pasokan yang disebabkan oleh konflik antara Rusia dan Ukraina.

Kondisi penurunan ini kemungkinan akan tetap bertahan selama kekhawatiran mengenai inflasi masih ada. Para pengamat dan investor berharap agar the Fed dapat menggunakan instrumen keuangannya dengan benar untuk menurunkan inflasi tanpa menyebabkan resesi.

Penurunan seluruh indeks ini diawali dengan turunnya beberapa saham teknologi, termasuk saham Netflix. Penurunan ini kemudian diikuti oleh sektor lain di pasar modal.

Sementara itu, Dow Jones ditutup di titik 31.261,90 naik 8,7 poin setelah turun 600 poin di hari itu. Nasdaq Composite turun 0,3% dan, menurut para pengamat, sudah berada di wilayah bear market karena sudah turun 30% dari titik tertingginya. Bitcoin duduk di harga $29.301, turun 3,3% dalam 24 jam terakhir.

Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *